CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Kamis, 24 April 2014

KESEHATAN MENTAL 2 "TUGAS"

STRESS


a.     Arti penting stress
Menurut J.P Chaplin dalam kamus lengkap psikologi mendefinisikan stres sebagai suatu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun pikologis. Hal senada diungkapkan dalam Atkinson (1983), stress terjadi ketika orang dihadapkan dengan persitiwa yang mereka rasakan sebagai mengancam kesehatan fisik maupun psikologisnya. Keadaan sosial, lingkungan, dan fisikal yang menyebabkan stress dinamakan stressor. Sementara reaksi orang terhadap peristiwa tersebut dinamakanrespon stress, atau secara singkat disebut stress.

     Menurut Lazzarus 1999 “stress adalah rasa cemas atau terancam yang timbul ketika kita menginterpretasikan atau menilai suatu situasi sebagai melampaui kemampuan psikologis kita untuk bisa menanganinya secara memadai” (“Stress is the anxious or threatening feeling that comes when we interpret or appraise a situation as being more than our psychological resources can adequately handle”).


b.    Tipe-tipe stres psikologis

Frustasi
Frustasi muncul karena adanya kegagalan saat ingin mencapai suatu hal/tujuan. Misalnya seseorang mengalami kegagalan dalam pekerjaan yang mengakibatkan orang tersebut harus turun jabatan. Orang yang memiliki tujuan tersebut mendapat beberapa rintangan/hambatan yang tidak mampu ia lalui sehingga ia mengalami kegagalan atau frustasi. Frustasi ada yang bersifat intrinsik (cacat badan dan kegagalan usaha) dan ekstrinsik (kecelakaan, bencana alam, kematian orang yang dicintai, krisis ekonomi, pengangguran, perselingkuhan, dan lain-lain.
Konflik
Konflik ditimbulkan karena ketidakmampuan memilih dua atau lebih macam keinginan, kebutuhan, atau tujuan. Saat seseorang dihadapkan dalam situasi yang berat untuk dipilih, orang tersebut akan mengalami konflik dalam dirinya. Bentuk konflik digolongkan menjadi tiga bagian, approach-approach conflict, avoidant-avoidant conflict, approach-avoidant conflict
·                     approach-approach conflict adalah suatu konflik antara dua tujuan yang positif , tujuan-tujuan secraa bersama itu mempunyai daya tarik yang sama. Misalnya: suatu konflik psikologis muncul ketika seseorang lapar dan ngantuk pada saat yang sama.
·                     avoidant-avoidant conflict adalah konflik yang melibatkan dua tujuan negatif, dan ini suatu pengalaman yang biasa. Misalnya: seorang siswa harus belajar untuk dua hari berikutnya untuk satu ujian atau mendapatkan kegagalan.
·                     approach-avoidant conflict adalah konflik yang paling sulit dipecahkan. Dalam jenis konflik  ini, seseorang tertarik dan menolak objek tujuan yang sama. Karena valensi positif dari tujuan ini, orang mendekatinya; tetapi jika didekati, valensi negatifnya semakin kuat. Jika, pada satu titik mendekati tujuan, aspek-aspek yang menghambat menjadi lebih kuat daripada aspek-aspek positif, orang akan menghentikan usahanya sebelum mencapai tujuan. Karena tujuan tidak tercapai individu bias menjadi frustasi.

Tekanan
Tekanan timbul dari tuntutan hidup sehari-hari. Tekanan dapat berasal dari dalam diri individu, misalnya cita-cita atau norma yang terlalu tinggi sehingga menimbulkan tekanan dalam diri seseorang. Tekanan juga berasal dari luar diri individu, misalnya seorang teman yang memaksa kita agar memberi contekan disaat ujian berlangsung.
Kecemasan
Kecemasan adalah emosi tidak menyenangkan yang ditandai oleh perasaan seperti “khawatir”, “prihatin”, “tegang”, dan “takut” yang dialami oleh semua manusia tetapi dengan kadar dan tingkatan yang berbeda-beda. Misalnya seorang anak yang sering dimarahi ibunya, anak tersebut akan merasakan kecemasan yang cukup tinggi jika ia melakukan hal yang akan membuat ibunya marah padahal ibu si anak tersebut belum tentu marah padanya.


c.      Symptom-reducing respons terhadap stres
- Mekanisme Pertahanan Diri -
ª  Indentifikasi
Indentifikasi dapat didefinisikan sebagai metode yang digunakan orang untuk mengambil alih ciri-ciri orang lain dan menjadikannya bagian yang tak terpisahkan dari kepribadiannya sendiri. Misalnya seorang anak perempuan yang menganggap ibunya memiliki kepribadian yang menyenangkan, cara bicara yang halus, suka berdandan dan sebagainya, maka anak perempuan tersebut akan meniru dan berperilaku seperti ibunya.
ª  Kompensasi
Seorang individu tidak memperoleh kepuasan dibidang tertentu, tetapi mendapatkan kepuasaan dibidang lain. Misalnya Riza memiliki nilai yang buruk dalam pelajaran Fisika, namun prestasi olahraga yang ia miliki sangat memuaskan.
ª  Pembentukan Reaksi/ Reaction Formation
Perilaku seseorang yang gagal mencapai tujuan dan orang tersebut tidak mengakui tujuan pertama tersebut dengan cara melupakan serta melebih-lebihkan tujuan kedua yang biasanya berlawanan dengan tujuan pertama. Misalnya seorang ibu yang membenci anaknya karena kehadiran anak tadi tidak diinginkan sehingga ibu tadi ingin membunuh anaknya, namun sang ibu malah bertindak sebaliknya, ia sangat menyayangi anaknya.
ª  Sublimasi
Sublimasi adalah suatu mekanisme sejenis yang memegang peranan positif dalam menyelesaikan suatu konflik dengan pengembangan kegiatan yang konstruktif. Penggantian objek dalam bentuk-bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat dan derajatnya lebih tinggi. Misalnya korupsi adalah perbuatan yang tidak dibenarkan oleh norma-norma masyarakta atau agama. Agar tidak dianggap sebagai koruptor wawan mengamalkan sebagian hasil korupsinya untuk membantu anak yatim piatu.
ª  Proyeksi
Proyeksi adalah proses pertahanan yang secara langsung tidak disadari dan dimana individu yang bersangkutan itu tidak mau menyadari/mengakui. Misalnya Tito membenci Toni, namun karena toni adalah kaka kandungnya, maka Tito mengatakan bahwa Toni yang membenci dia.
ª  Introyeksi
Introyeksi adalah memasukan dalam diri pribadi dirinya sifat-sifat pribadi orang lain. Misalnya seorang wanita mencintai seorang pria lalu ia memasukkan pribadi pria tersebut ke dalam pribadinya.
ª  Reaksi Konversi
Secara singkat mengalihkan koflik ke alat tubuh atau mengembangkan gejala fisik. Misalnya belum belajar saat menjelang bel masuk ujan, seorang anak wajahnya menjadi pucat berkeringat.
ª  Represi
Represi adalah konflik pikiran, impuls-impuls yang tidak dapat diterima dengan paksaan ditekan ke dalam alam tidak sadar dan dengan sengaja melupakan. Misalnya seorang mahasiswa bertemu dengan wanita cantik, putih dan seksi. Namun setelah disadari ternyata wanita cantik itu adalah dosennya yang telah bersuami. Sehingga gairahnya tadi ditekan kea lam tidak sadar.
ª  Supresi
Supresi yaitu menekan konflik impuls yang tidak dapat diterima secara sadar. Individu tidak mau memikirkan hal-hal yang kurang menyenangkan dirinya. Misalnya dengan berkata “Sebaiknya kita tidak membicarakan hal itu lagi.” 
ª  Regresi
Regresi adalah mekanisme perilaku seorang yang apabila menghadapi konflik frustasi, ia menarik diri dari pergaulan. Misalnya artis yang sedang digosipkan selingkuh karena malu maka ia menarik diri dari perkumpulannya.
ª  Fantasi
Fantasi adalah kemampuan mental untuk membentuk tanggapan-tanggapan atau bayangan-bayanagan baru. (Walgito, 2004:139). Misalnya seorang wanita yang tidak memiliki uang untuk pergi ke paris ia melamunkan berbagai fantasi dirinya seolah-olah sedang berada di paris.
ª  Negativisme
Negativisme adalah perilaku seseorang yang selalu bertentangan dengan perilaku tidak terpuji. Misalnya seorang teman yang mengajak Rika mencuri, namun Rika menolaknya.
ª  Sikap Mengritik Orang Lain
Bentuk pertahanan diri untuk menyerang orang lain dengan kritikan-kritikan. perilaku ini termasuk perilaku agresif yang aktif. Misalnya seorang karyawan yang berusaha menjatuhkan karyawan lain dengan adu argument saat rapat berlangsung.



d.    Pendekatan problem solving terhadap stress
Problem Solving
Kita mengalahkan stress dengan cara menyelesaikan problem stressor (hal yang membuat stress itu). Misalnya, kita stress karena menderita suatu penyakit, maka kita menyelesaikan masalah dengan berobat sehingga penyakit kita bisa sembuh. Atau bisa juga dengan mengusahakan agar kita bisa menyesuaikan diri dengan situasi yang terjadi (bila situasinya sendiri tidak bisa dirubah).
_Meningkatkan Toleransi Stress_
Mengarahkan diri pada kegiatan yang posotif, bisa secara psikis maupun fisik, misalnya secara psikis: menyadari bahwa didalam kehidupan semua orang pernah mengalami stress, walaupun dalam bentuk dan tingkat yang berbeda-beda. Secara fisik: berolahraga dipagi hari, membaca komik lucu atau menonton hiburan di Tv, melakukan wisata alam, mengkonsumsi makanan yang bisa meralaksasi seperti coklat.

Menghilangkan stress mekanisme pertahanan dan penanganan yang berfokus pada masalah. Menurut Lazurus dan Folkman penanganan stress atau coping terdiri dari dua bentuk, yaitu :
·                     problem focused coping (Coping yang berfokus pada masalah) adalah istilah Lazurus untuk strategi kognitif untuk penanganan dtress atau coping yang digunakan oleh individu yang mengahadapi masalahnya dan berusaha menyelesaikannya.
·                     problem focused coping (Coping yang berfokus pada emosi) adalah isitlah Lazurus untuk strategi penanganan stress diaman individu memberikan respon terhadad situasi stress dengan cara emosional, terutama dengan menggunakan penialaian defensif.
















Hubungan Interpersonal



a. Model-model hubungan interpersonal
Ada 4 model hubungan interpersonal yaitu meliputi :
  1. Model pertukaran sosial
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berinteraksi karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya.Thibault dan Kelley, dua orang pemuka dari teori ini menyimpulkan model pertukaran sosial sebagai berikut: “Asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanyaselama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya”.
Ganjaran yang dimaksud adalah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan. Ganjaran dapat berupa uang, penerimaan sosial, atau dukungan terhadap nilai yang dipegangnya. Sedangkan yang dimaksud dengan biaya adalah akibat yang negatif yang terjadi dalam suatu hubungan. Biaya itu dapat berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan, dan keruntuhan harga diri dan kondisi-kondisi lain yang dapat menimbulkan efek-efek tidak menyenangkan.
  1. Model peranan
Model peranan menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara.Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang tuntutan peranan adalah desakan sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu.
  1. Model permainan
Model menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :
  1. Kepribadian orang tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua).
  2. Kepribadian orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional)
  3. Kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).
Pada interaksi individu menggunakan salah satu kepribadian tersebut sedang yang lain membalasnya dengan menampilkan salah satu dari kepribadian tersebut. Sebagai contoh seorang suami yang sakit dan ingin minta perhatian pada istri (kepribadian anak), kemudian istri menyadari rasa sakit suami dan merawatnya (kepribadian orang tua).
  1. Model Interaksional
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki sifat-sifat strukural, integratif dan medan. Semua sistem terdiri dari subsistem-subsistem yang saling tergantung dan bertindak bersama sebagai suatu kesatuan. Selanjutnya, semua sistem mempunyai kecenderungan untuk memelihara dan mempertahankan kesatuan. Bila ekuilibrium dari sistem terganggu, segera akan diambil tindakannya. Setiap hubungan interpersonal harus dilihat dari tujuan bersama, metode komunikasi, ekspektasi dan pelaksanaan peranan.Secara singkat model ini menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.


b. Pembentukan kesan dan ketertarikan interpersonal
Pembentukan kesan
Menurut Sears dkk. (1992) individu cenderung membentuk kesan panjang lebar atau orang lain berdasarkan informasi yang terbatas. Hanya dengan melihat dari potret atau secara langsung selama beberapa menit saja, seseorang sudah cenderung menilai sebagian besar karekter orang yang diamatinya tersebut. Beberapa orang tidak percaya dengan pendapat ini, mesiki demikian individu umumnya menilai orang lain dari segi intelegensi, usia, latar belakang, ras, agama, pendidikan, kejujuran, dan sebagainya.
  • Evaluasi : Kesan Pertama.
Menurut Sears dkk. (1992) aspek pertama yang paling penting dan kuat adalah evaluasi: apakah kita akan menyukai seseorang atau tidak? Kesan awal ini dapat dilihat dari beberapa indikasi seperti : dia mungkin ingin bersahabat, senang ngobrol, periang, atau ramah.
Secara formal dimensi evaluatif merupakan dimensi terpenting diantara sejumlah dimensi dasar yang mengorganisasiikan kesan gabungan tentang orang lain. Terdapat banyak penelitian yang pada akhirnya menyimpulkan bahwa evaluasi merupakan dimensi dasar terpenting dari persepsi seseorang. Rosenberg, Nelson, dan Vivekanathan (dalam Sears dkk,1992) menemukan bahwa orang mengevaluasi orang lain sesuai dengan kualitas intelektual atau yang berhubungan dengan tugas terpisah mereka, dan kualitas sosial atau hubungan interpersonal mereka, paling tidak untuk beberapa waktu. Meski demikian perbedaan ini tidak merubah ciri dasarnya yaitu: manusia pertama-tama akan berpikir sesuai dengan rasa suka atau tidak suka jika melihat orang lain.
  • Kesan Menyeluruh.
Untuk menjelaskan bagaimana orang mengevaluasi terhadap orang lain, dapat dilakukan dari “kesan yang diterima secara keseluruhan”. Sears dkk. (1992) membagi kesan menyeluruh tersebut menjadi dua, yaitu:
  1. Model penyamarataan –> Model penyamarataan menyatakan bahwa individu dapat menyusun potongan-potongan informasi yang terpisah-pisah menjadi suatu kesan menyeluruh yang sederhana
  2. Model menambahkan –> Model menambahkan menyatakan bahwa individu mempersatukan potongan-potongan informasi yang terpisah dengan jalan menambahkan nilai ukutan dan bukannya dengan membuat rata-rata.
  • Konsistensi
Individu cenderung membentuk karekteristik yang konsisten secara evaluatif terhadap individu lainnya, meski hanya memiliki sedikit informasi. Kita cenderung memandang orang lain secara konsisten dari kedalamannya. Karena evaluasi merupakan dimensi paling penting di dalam persepsi manusia, sehingga kita cenderung akan menilai “baik” dan “buruk”, dan bukan keduanya (Sears dkk, 1992).
Berdasarkan evaluasi dengan pendekatan ini, maka kita akan melihat ciri lain yang konsisten dengannya. Jika seseorang bersifat menyenangkan, dia harus menarik, cerdas, murah hati, dan seterusnya. Sementara bila buruk, maka dia harus licik, berwajah buruk, dan aneh. Kecenderungan terhada konsistensi ini disebut “Efek Halo”. Di dalam efek halo, orang yang telah dilabel selalu baik selalu dikelilingi oleh suasana positif dan kebalikannya pada orang yang dilabel buruk selalu dipandang memiliki kualitas yang buruk (Efek Halo Negatif) (Sears dkk., 1992)
  • Prasangka Positif
Prasangka positif menurut Sears dkk. (1992) adalah kecenderungan menilai otang lain secara positif sehingga mengalahkan evaluasi negatif. Misalnya pada studi dimana mahasiswa sebagian besar memberikan nilai positif terhadap profesornya dengan nilai di atas rata-rata, meski para mahasiswa tersebut telah mengalami berbagai pengalaman baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan dengan profesornya selama kuliahnya. Ada hipotesis rasional muncul untuk berprasangka secara positif, yang oleh Matlin dan Stang (dalam Sears dkk., 1992) disebut sebagai prinsip Pollyana. Berdasarkan pendapat ini, maka orang akan merasa lebih senang apabila dikelilingi oleh hal-hal yang baik, pengalaman yang menyenangkan, masyarakat yang ramah, cuaca yang cerah, dan sebagaimya. Bahkan ketika mereka sakit atau rumahnya runtuh sekalipun, mereka akan tetap menilai situasi selalu baik.
Ketertarikan Interpersonal
Setelah perjumpaan awal, perhatian kita sering kali terfokus pada bagaimana memelihara dan mengarahkan hubungan yang tercipta berdasarkan daya tarik awal untuk selanjutnya akan dapat menimbulkan keintiman dan bahkan cinta. Para ahli psikologi ternyata telah banyak mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi daya tarik seseorang terhadap orang lain. Hal ini disebabkan karena manusia akan berusaha untuk memprioritaskan hubungan antarpribadi sepanjang hidupnya. Kecenderungan untuk berafiliasi (keinginan untuk berada bersama dengan orang lain) memang cukup kuat bagi kebanyakan orang. Hal ini sebenarnya sudah terjadi semenjak masa bayi, dimana bayi mulai membangun rasa kasih sayang yang kuat pada satu orang dewasa atau lebih. Beberapa prinsip yang berusaha menjelaskan mengapa akhirnya kita memutuskan untuk berteman atau tidak berteman dengan orang lain adalah:
  1. Penguatan: kita menyukai orang lain dengan cara memberi ganjaran sebagai penguatan dari tindakan atau sikap kita. Salah satu tipe ganjaran yang penting adalah persetujuan sosial, dan banyak penelitian memperlihatkan bahwa kita cenderung menyukai orang lain yang cenderung menilai kita secara positif (Sears, 1992).
  2. Pertukaran Sosial: rasa suka kita pada orang lain didasarkan pada penilaian kita terhadap kerugian dan keuntungan yang diberikan seseorang kepada kita. Kita menyukai seseorang apabila kita mempersepsi bahwa interaksi kita dengan orang itu sifatnya menguntungkan, yaitu apabila ganjaran yang akan kita terima lebih besar dari pada kerugiannya. Teori ini juga menekankan bahwa kita membuat penilaian komparatif, menilai keuntungan yang kita peroleh dari seseorang dibandingkan dengan keuntungan yang kita peroleh dari orang lain (Sears dkk., 1992)
  3. Asosiasi: kita menjadi suka kepada orang yang diasosiasikan (dihubungkan) dengan pengalaman yang baik/bagus dan tidak suka kepada orang yang diasosiasikan dengan pengalaman buruk/jelek (Clore & Byrne dalam Sears dkk., 1992).
Selain itu ada juga faktor-faktor yang mempengaruhi ketertarikan interpersonal yaitu :
  • Karakter Pribadi
Para ahli telah berusaha mengidentifikasikan beberapa karakteristik umum yang mempengaruhi rasa suka seseorang kepada orang lain, yaitu ketulusan, kehangatan personal (terlihat hangat dan ramah ketika membicarakan suatu hal, memuji ataupun menyetujuinya), kompetensi, daya tarik fisik.
  • Kesamaan
Kita cenderung menyukai orang yang sama dengan kita dalam sukap, nilai, minat, hobby, latar belakang dan kepribadian.
  • Keakraban
Keakraban dapat ditingkatkan dengan kedekatan. Menurut penelitian Zajonc dkk, menunjukkan bahwa makin sering subjek melihat suatu wajah, semakin besar rasa suka mereka terhadap wajah tersebut dan semakin besar kemungkinan mereka untuk menyukai orang lain.
  • Kedekatan
Menurut Atkinson dkk. (1993) salah satu prediktor terbaik mengenai apakah dua orang dapat berteman atau tidak adalah seberapa jauh jarak tempat tinggal mereka. Menurut Schiffenbauer dan Achiavo (dalam Atkinson dkk., 1992) kedekatan hanya meningkatkan intensitas reaksi awal. Akan tetapi karena seringkali perjumpaan pertama menyangkut hal-hal yang paling netral sampai yang menyenangkan, hasil kedekatan yang paling sering dapat dipertahankan adalah persahabatan. Terdapat tiga faktor yang menghubungkan antara kedekatan dan daya tarik interpersonal yaitu kedekatan biasanya meningkatkan keakraban, kedekatan sering berkaitan dengan kesamaan, orang yang dekat secara fisik lebih mudah didapat daripada orang yang jauh (Sears dkk., 1992)


c. Intimasi dan hubungan pribadi
  • Shadily dan Echols (1990) mengartikan intimasi sebagai kelekatan yang kuat yang didasarkan oleh saling percaya dan kekeluargaan.
  • Sullivan (Prager, 1995) mendefinisikan intimasi sebagai bentuk tingkah laku  penyesuaian seseorang untuk mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap  orang lain.
  • Steinberg (1993) berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah  ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu  sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang  terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas  yang sama.
  • Levinger & Snoek (Brernstein dkk, 1988) merupakan suatu bentuk hubungan  yang berkembang dari suatu hubungan yang bersifat timbal balik antara dua  individu. Keduanya saling berbagi pengalaman dan informasi, bukan saja pada hal-hal yang berkaitan dengan fakta-fakta umum yang terjadi di sekeliling mereka, tetapi lebih bersifat pribadi seperti berbagi pengalaman hidup, keyakinan-keyakinan, pilihan-pilihan, tujuan dan filosofi dalam hidup. Pada tahap ini akan terbentuk perasaan atau keinginan untuk menyayangi, memperdulikan, dan merasa bertangung jawab terhadap hal-hal tertentu yang terjadi pada orang yang dekat dengannya.
  • Atwater (1983) mengemukakan bahwa intimasi mengarah pada suatu  hubungan yang bersifat informal, hubungan kehangatan antara dua orang yang  diakibatkan oleh persatuan yang lama. . Intimasi mengarah pada keterbukaan pribadi dengan orang lain, saling berbagi pikiran dan perasaan mereka yang terdalam. Intimasi semacam ini membutuhkan komunikasi yang penuh makna untuk mengetahui dengan pasti apa yang dibagi bersama dan memperkuat ikatan yang telah terjalin. Hal tersebut dapat terwujud melalui saling berbagi dan membuka diri, saling menerima dan menghormati, serta kemampuan untuk merespon kebutuhan orang lain (Harvey dan Omarzu dalam Papalia dkk, 2001).
Jadi intimasi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk menjalin hubungan yang dekat atau akrab dengan orang lain dengan menunjukkan perasaan saling percaya, saling berbagi (keterbukaan diri), adanya hubungan timbal balik dan terbentuknya komitmen dalam suatu hubungan.
Keintiman memiliki arti kelekatan personal kepada individu lain, dimana pasangan tersebut saling berbagi pemikiran dan perasaan terdalamnya. Sedangkan hubungan personal (intim) merupakan hubungan yang memiliki kedekatan emosional antara dua orang atau lebih, seperti dengan teman, kekasih, sahabat, yang mungkin atau tidak melibatkan keintiman baik secara fisik atau seksual. Berdasarkan pendekatan dalam Teori Hubungan Interpersonal, keintiman dapat dijelaskan sebagai berikut:
  1. Fair-exchange modelKeintiman merupakan hubungan satu sama lain tidak menghitung untung-rugi, antar pasangan saling memberi dan menerima secara spontan di mana satu sama lain merasa terpuaskan.
  2. Transactional analysis model. Keintiman melibatkan kasih sayang, game-free transactionantar pasangan, dengan sedikit manipulasi di antara keduanya.
  3. Role model.Keintiman diharapkan sebagai hubungan personal yang kaya, memiliki komunikasi yang terbuka antara pasangan, dan keterlibatan mendalam secara emosional melebihi peran-peran lain yang diharapkan.


Sumber:
Basuki, A.M. Heru. (2008). Psikologi Umum. Jakarta : Universitas Gunadarma.
Supratiknya, A. (1978). Psikologi Kepribadian. Yogyakarta : Kanisius.
Riyanti, Dwi B.P., Prabowo, Hendro. (1998). Psikologi Umum 2. Jakarta : Universitas Gunadarma.



KESEHATAN MENTAL 2 "TULISAN"

1. ceritakan pengalaman stres yang paling berkesan,juga cara yang digunakan untuk mengatasinya?

Pengalaman stres yang paling berkesan selama hidup saya adalah ketika adik bungsu saya sakit parah,saya sangat stes dan sedih karena saya hampir kehilangan adik saya karena sakit yang di deritanya. Tapi bersyukur karena adik saya akhirnya bisa tertolong,meskipun begitu saya masih tetap stres memikirkan adik saya yang harus dirawat di rumah sakit dan juga saya sempat stres karena saya yang harus menghandle pekerjaan rumah karena mama saya harus menjaga adik saya di rumah sakit.
 Cara mengatasi stress yang saya alami yaitu saya berdoa dan yakin kepada tuhan jika adik saya pasti sembuh. Selain itu cara mengatasi stress yang saya alami dengan bercanda gurau bersama sahabat saya di kampus,bisa juga saya mendengarkan musik atau lagu kesukaan saya,sehingga secara berangsur-angsur stress yang saya alami berkurang.


2. cari pengalaman stress dilingkup mana saja, kutip kasusnya lalu beri cintoh.

Liputan6.com, Dubai- Seorang remaja 16 tahun asal India dan tengah menjalani pendidikan SMA di Dubai, Uni Emirat Arab, mengakhiri hidupnya dengan cara tragis. Ia ditemukan gantung diri di balkon apartemennya setelah menghadapi ujian matematika CBSE.
Baru-baru ini ditemukan catatan dalam sebuah kertas yang ditengarai sebagai curahan isi hatinya saat hendak menghadapi ujian matematika. "Hidup begitu membosankan dan tak jelas," curhat remaja berinisial AS itu, seperti dimuat Emirates247, Rabu (6/3/2014). Catatan itu diketahui ditulis pada 25 Februari 2014.
Dalam laman New Delhi Television (NDTV), remaja itu dilaporkan stres karena gagal meraih nilai standar dalam ujian matematika. Pemuda itu bunuh diri saat hendak mengikuti ujian matematika kedua atau remedial.
Sumber keluarga kepada Emirates247 pun membenarkan bahwa AS mengalami stres berat. Keluarga menyimpulkan kondisi tersebut setelah menemukan catatan curhat dari AS baru-baru ini. "Catatan itu membuktikan bahwa dia stres," kata sumber itu.
Pihak sekolah mengaku belum bisa memberikan keterangan terkait kematian AS. Namun sekolah saat ini telah menanyakan bagaimana kondisi terakhir AS kepada guru konseling.
Para teman dan kerabat dilaporkan telah berkumpul di rumah duka AS di Dubai dan tempat pembalseman di Sonapur. Remaja itu kemudian akan dikremasi di India.
Di mata keluarga, AS dikenal sebagai sosok seniman. Ia jago melukis dan hasil karya dari remaja itu menghiasi kamar apartemennnya. "Ayah dia juga seniman dan penulis buku terkenal. AS menuruni bakat ayahnya," ujar seorang tetangga.
Atas kejadian ini, psikolog setempat Salam Omasshery mengatakan, kasus pelajar bunuh diri karena stres ujian kerap terjadi di India. Karenanya, ia mengimbau para orangtua dan guru untuk memperhatikan anak-anak.
"Setiap stres, remaja mengungkapkannya lewat bahasa tubuh dan perilaku aneh. Bisa juga lewat tulisan atau gambar. Dalam hal ini, guru perlu memperhatikan sehingga bunuh diri bisa dihindari," ujar Salam. (Elin Yunita Kristanti).



* Menurut saya tindakan AS sangatlah salah menyalahi hukum agama karena bunuh diri. Seharusnya AS mencari jalan keluar lain,seperti kursus matematika agar dia nisa menguasai materi matematika di sekolah nya,atau yang lebih mudah AS bisa meminta bantuan teman nya untuk mengajarinya materi matematika yang diajar oleh gurunya kembali. Dan untuk gurunya,seharusnya sang guru lebih bisa memahami para siswanya untuk lebih memperjelas materi yang dijelaskan di kelas jangan terburu-buru agar semua siswanya dapat paham dan mengerti materi yang di ajarkannya,agar saat ujian semua muridnya bisa lulus atau mendapatkan nilai bagus.

Sabtu, 29 Maret 2014

TUGAS KESEHATAN MENTAL "TULISAN"

1.  Penjabaran konsep diri
    Nama saya adalah  marlin elizabeth tomatala, saya anak kedua dari enam bersaudara. Saya tinggal di villa mas garden bekasi utara. Saya merupakan pribadi yang humoris,mudah berbaur dengan orang lain. Saya senang karna saya mempunyai teman yang sama seperti saya,senang bergurau,bercanda tapi kita juga bisa serius kalau waktunya serius.
    Saya itu mahasiswi dari salah satu perguruan tinggi bekasi yaitu Universitas Gunadarma. Saya mengambil jurusan Psikologi karna saya tertarik untuk mempelajari tingkah laku dan kepribadian manusia, karena menurut saya ilmu psikologi itu ilmu yang bisa di terapkan sehari-hari.

2. Contoh kasus ketidak sehatan mental
Kasus ryan jombang

Cirebon (ANTARA News) - Penjagal asal Jombang Very Idham Henyansyah alias Ryan siap menghadapi hukuman mati dalam kasus mutilasi Heri Santoso setelah Peninjaun Kembali (PK) dari Mahkamah Agung yang diajukannya telah ditolak.
"Harapan untuk dihukum seumur hidup masih tinggi, namun jika Peninjaun Kembali perkara pidananya ditolak, dirinya siap menghadapi hukuman mati," kata Ryan di Lembaga Pemasyarakatan kelas I Kota Cirebon kepada wartawan, Selasa.
Ia menuturkan, selama menjalani hukuman terasa berat dengan beban vonis mati. Aktivitasnya di LP berjalan normal.
Ia meminta maaf kepada semua kerabat dan rekannya jika memang hukuman mati tetap dilaksanakan.
Sementara itu Kalapas Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Cirebon Agus Toyib Bc.Ip. SH MH menuturkan, Ryan yang menjalani hukuman di LP Kesambi Cirebon merupakan narapidana pindahan dari Bogor.
Dalam sel, ia berkelakuan baik, selain aktif berbagai kegiatan rutin sesama napi.
Terkait penolakan PK, kata dia, Ryan pasrah meski kondisi kejiwaannya labil. Itu dinilai wajar, karena napi dengan vonis hukuman mati memerlukan perhatian khusus.
Sebelumnya Ryan divonis hukuman mati oleh Pengadilan Negeri (PN) Depok, Senin (6/4/2009).Karena terbukti melakukan 11 pembunuhan di daerah Jombang. Ia melanggar pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

Pendapat saya tentang kasus ini : menurut saya tersangka dalam kasus ini yaitu ryan kesehatan mentalnya amat sangat terganggu. Dia melakukan pembunuhan secara sadis dan tragis terhadap korban-korbannya. Dan dari sini dapat kita lihat dia mempunyai gejala psikopatologi (psikopat) yang harus mendapatkan penanganan khusus, karena ditakutkan selepas dari tahanan dia akan melakukan hal yang sama lagi.


                                                 

KESEHATAN MENTAL

 PENGANTAR
A. Orientasi Kesehatan Mental
Saparinah Sadli, mengemukakan tiga orientasi dalam kesehatan jiwa, yaitu:
1.      Orientasi Klasik
Orientasi klasik ini banyak digunakan dalam dunia kedokteran, termasuk psikiatri. Menurut pandangan orientasi klasik, individu yang sehat adalah individu yang tidak mempunyai keluhan tertentu, seperti ketegangan, rasa lelah, cemas, rendah diri, atau perasaan tak berguna, yang semuanya menimbulkan perasaan “sakit” atau “perasaan tak sehat”, serta mengganggu efisiensi dan efektifitas kegiatan sehari-hari. Individu yang sehat adalah individu yang tidak mempunyai keluhan secara fisik dan mental. Sehat fisik merujuk pada tidak adanya keluhan secara fisik, dan sehat mental merujuk pada tidak adanya keluhan secara mental.
2.      Orientasi Penyesuaian Diri     
Pandangan yang digunakan sebagai landasan orientasi penyesuaian diri adalah pendekatan yang menegaskan bahwa manusia pada umumnya adalah makhluk yang sehat secara mental. Dengan pandangan ini penentuan sehat atau sakit mental dilihat sebagai derajat kesehatan mental. Selain itu, berdasarkan orientasi penyesuaian diri, kesehatan mental dipahami sebagai kondisi kepribadian individu secara utuh. Penentuan derajat kesehatan mental bukan hanya berdasarkan jiwanya tetapi juga berkaitan dengan proses pertumbuhan dan perkembangan individu dalam lingkungannya. Kesehatan mental seseorang sangat erat kaitannya dengan tuntutan-tuntutan masyarakat tempat dimana individu hidup, masalah-masalah hidup yang dialami, peran sosial dan pencapaian-pencapaian sosialnya.
Kesehatan mental merupakan kemampuan individu untuk secara aktif menyesuaikan diri sesuai tuntutan kenyataan di sekitarnya, yang merujuk pada tuntutan yang berasal dari masyarakat yang secara konkret mewujud dalam tuntutan orang-orang yang ada di sekitarnya. Penyesuaian diri ini tidak mengakibatkan perubahan kepribadian, stabilitas diri tetap terjaga, dan tetap memiliki otonomi diri. Individu dapat menerima apa yang ia anggap baik dan menolak apa yang ia anggap buruk berdasarkan pegangan normatif yang ia miliki. Individu yang sehat akan melihat realitas terhadap masalah yang dihadapinya dan bagaimana kondisi dirinya berkaitan dengan masalah itu sebelum menentukan tindakan yang akan diambil. Individu yang sehat memiliki kemampuan memahami realitas internal dan eksternal dirinya. Ia tidak bereaksi secara mekanik atau kompulsif-repetitif tetapi merespons secara realistis dan berorientasi pada masalah.

3.      Orientasi Pengembangan Potensi
Menurut pandangan ini, kesehatan mental terjadi bila potensi-potensi kreatifitas, rasa humor, rasa tanggung jawab, kecerdasan, kebebasan bersikap dapat berkembang secara optimal sehingga mendatangkan manfaat bagi dirinya sendiri dan lingkungan disekitarnya. Individu dianggap mencapai taraf kesehatan mental, bila ia mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan sehingga dapat dihargai oleh orang lain dan dirinya sendiri.
Individu yang sehat mental adalah individu yang dapat dan mampu mengembangkan dan memanfaatkan potensi yang ada pada dirinya untuk kegiatan yang positif-konstruktif, sehingga dapat meningkatkan kualitas dirinya. Pemanfaatan dan pengembangan potensi ini dapat dipergunakan dalam kegiatan dan kehidupan sehari-hari.

B. Konsep Sehat
konsep sehat didefenisikan sebagai suatu keadaan dan kualitas dari organ tubuh yang berfungsi secara wajar dengan segala faktor keturunan dan lingkungan yang dimiliki. Konsep sehat dan kesehatan merupakan dua hal yang hampir sama tapi berbeda.Konsep sehat menurut Parkins (1938) adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dan berbagai faktoryang berusaha mempengaruhinya.

menurut White (1977), sehat adalah suatu keadaan di mana seseorang pada waktu diperiksa tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu penyakit dan kelainan. Sementara konsep WHO tahun 1974, menyebutkan Sehat adalah keadaan sempurna dari fisik, mental, sosial, tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. 

Sehat dapat dikatakan, sutatu kondisi normal (baik) secara fisik , emosi (EQ), intelektual (IQ)l, spritual (SQ) dan sosial. Dari pernyataan diatas sudah bisa didapat tentang dimensi sehat, berikut pemahamannya:
-          Fisik
Dikatakan sehat bila secara fisiologis (fisik) terlihat normal tidak cacat, tidak mudah sakit, tidak kekurangan sesuatu apapun.

-          Emosi
Orang yang sehat secara emosi dapat terlihat dari kestabilan dan kemampuannya mengontrol dan mengeskpresikan perasaan (marah, sedih atau senang) secara tidak berlebihan. Mampu mendisiplinkan diri.
-          Intelektual
Dikatakan sehat secara intelektual yaitu jika seseorang memiliki kecerdasan dalam kategori yang baik mampu melihat realitas. Memiliki nalar yang baik dalam memecahkan masalah atau mengambil keputusan.
-          Spiritual
Sementara orang yang sehat secara spiritual adalah mereka yang memiliki suatu kondisi ketenangan jiwa dengan id mereka secara rohani dianggap sehat karena pikirannya jernih tidak melakukan atau bertindak hal-hal yang diluar batas kewajaran sehingga bisa berfikir rasional.
-          Sosial
Sehat secara social dapat dikatakan mereka yang bisa berinteraksi dan berhubungan baik dengan sekitarnya, serta mampu untuk bekerja sama.

C. Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental
Sejarah perkembangan kesehatan mental pertama kali itu pada jaman nenek moyang yang mengalami gangguan mental seperti halnya homo sapiens sendiri . Mereka mengalami kecelakaan dan demam yang merusak mental . Jadilah manusia yang dengan rasa putus asa selalu berusaha buat menjelaskan tentang penyakit mental. Zaman dahulu orang menduga bahwa penyebab penyakit mental adalah setan, roh-roh jahat dan dosa-dosa. Oleh karena itu para penderita penyakit mental dimasukkan dalam penjara-penjara di bawah tanah atau dihukum dan diikat erat-erat dengan rantai besi yang berat dan kuat. Namun, lambat laun ada usaha-usaha melalukan perbaikan dalam mengatasi orng-orang yg mengalami gangguan mental.

Sejarah kesehatan mental tidaklah sejelas sejarah ilmu kedokteran ini terutama karna masalah mental bukan merupakan masalah fisik yang dengan mudah dapat diamati dan terlihat. Hal ini lebih karna mereka sehari-hari hidup bersama sehingga tingkah laku yang mengindikasikan gangguan mental dianggap hal yang biasa bukan lagi sebagai gangguan. Kesehatan mental ungkapan ini diciptakan oleh W. Swetster di tahun 1843, dan penuh dengan konten yang sebenarnya melalui "pribadi" pengalaman berkumpul oleh ahli asuransi Beers Amerika. Tujuannya adalah untuk memastikan perawatan yang lebih manusiawi dari sakit mental, cara bagaimana tujuannya ini dilakukan dalam konteks yang lebih luas melampaui domain perawatan kesehatan tidak bisa disebut hanya kejiwaan.

Kesehatan mental mulai berkembang sejak perang dunia ke II .Sejak awal perang dunia ke II kesehatan mental bukan lagi suatu istilah yang asing bagi orang - orang .Dalam bidang kesehatan mental kita dapat memahami bahwa gangguan mental itu telah terjadi sejak awal peradaban manusia dan sekaligus telah ada upaya-upaya mengatasinya sejalan dengan peradaban. Namun seiring jaman yang semakin maju dan perkembangan ilmu pengetahuan Philippe Pinel di Perancis dan William Tuke dari Inggris, mengadakan perbaikan dalam menanggulangi orang-orang yang terganggu mentalnya.
-          Zaman Prasejarah
Pada zamannya, manusia purba sering mengalami gangguan-gangguan baik mental maupun fisik seperti infeksi arthritis, penyakit pernapasan dan usus. Tetapi penyakit mental pada saat itu benar benar ditangani cara pandang mereka adalah  merawatnya sama seperti penyakit fisik, karena berfikir bahwa mental dan fisik disebabkan oleh penyebab yang sama, yakni roh-roh jahat, halilintar atau mantera-mantera musuh. Jadi tindakan perawatan yang diberikan untuk penyakit bauk mental maupun fisik adalah seperti menggosok, menjilat, menghisap, memotong dan membalut. Atau dengan cara lain yang terpikirkan oleh kawan-kawannya, pemimpin-pemimpinnya, atau ia sendiri seperti menggunakan salep, mantera, obat keras dan sihir.Tetapi masih diperlakukan secara manusiawi.
-          Peradaban Awal
Di Mesopotamia, penyakit mental dihubungkan dengan roh atau setan dan perawatannya dilakukan dengan upacara-upacara agama dan magis agar setan keluar dari tubuh si pasien. Sedangkan di Mesir, ilmu kedokteran agak lebih maju dan rasional.   Sedangkan di Yahudi, penyakit mental diartikan sebagai suatu hukuman dari Tuhan dan hanya diobati dengan bertaubat. Tapi perhatian orang Yahudi juga memperhatikannya dari segi kemanusiaan dan ilmu kedokteran, bahkan pada tahun 490 M didirikan  rumah sakit di Yerusalem untuk para pasien penyakit mental.Tapi sampai sejaarah modern belakangan ini, sumbangan sumbangan yang besar terhadap kesehatan fisik dan mental manusia datang dari orang Yunani. Beberapa pandangan dalam pemikiran Yunani yang sangat penting yaitu dengan dilakukannya penelitian dan terminologi psikiatri modern.
-          Abad Pertengahan
Pada abad pertengahan, gangguan mental tidak dianggap sebagai penyakit. Banyak kebiasaan yang telah dilakukan dalam ilmu kedokteran sebelumnya tidak dilanjutkan,dan hal yang lebih buruk seperti takhayul dan ilmu tentang setan malah dihidupkan kembali. Exorcisme pada abad ini digunakan sebagai perawatan orang yang mengalami gangguan mental. Yaitu dengan menggunakan mantra- mantra dan jimat-jimat.pada tahun 1600an (dan sebelumnya) : Orang yang sakit secara mental dahulu kala dianggap sebagai “orang yang kesurupan”  yang mengalami gangguan mental dimasuki oleh roh-roh. Maka dari itu penyembuhannyapun juga melalui healer, shaman atau penyembuh yang lebih dikenal dengan istilah dukun.
-          Zaman Renaisans
Zaman ini tepatnya digambarkan sebagai “terang dalam kegelapan”. Di Switzerland, mengakui penyebab rasional penyakit mental dan menolak adanya kaitan dengan demonology. Di Prancis, lebih menggunakan pendekatan yang manusia terhadapa para pasien sakit mental,menganggap bahwa penyakit mental tidak berbeda dengan penyakit fisik.Tahun 1724 : Pendeta Cotton Mather menjelaskan masalah kejiwaan yang menyebabkan gangguan yang terjadi di dalam tubuh sekaligus mematahkan takhayul yang berkembang selama ini.
-          Abad XVII - Abad XX
Disini dipusatkan pada klasifikasi dan system, suatu hal yang mungkin sama dengan analisis system. Tahun 1812 : Benjamin Rush menjadi orang pertama yang mencoba menangani penyakit mental secara manusiawi. Llu itu di Inggris, muncul optimisme dalam menangani pasien sakit jiwa dengan perkembangan teori dan teknik untuk menangani orang sakit jiwa ini di rumah sakit. walaupun dalam prakteknya sering mengalami kegagalan sehingga lambat launpun muncul masa terapi pesimisme.Tahun 1908 : Clifford Beers yang pernah menjadi pasien rumah sakit jiwa dengan penanganan yang benar maupun yang salah mengeluarkan buiku “A Mind That Found Itself”. Buku tersebut langsung memberikan efek yaitu menyebarkan visinya mengenai gerakan kesehatan mental. Beers lalu mendirikan Masyarakat Connecticut yang merupakan akar dari Asosiasi Kesehatan Mental Nasional. Dan pada tahun 1950  diteruskan untuk melanjutkan mendidik publik Amerika pada isu-isu kesehatan mental dan mempromosikan kesadaran akan kesehatan mental.




 TEORI KEPRIBADIAN SEHAT
A.   Aliran Psikoanalisa
Psikoanalisa adalah cabang ilmu yang di kembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya , sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia.
Kepribadian Sehat Psikoanalisa :
o   Pada alam pikiran tidak sadar dan kreativitas sebagai kompensasi untuk masa anak
o   Individu bersifat egois , tidak bermoral dan tidak mau tahu kenyataan
o   Manusia sebagai ho,o valens dengan berbagai dorongan dan keinginan
o   motif-morif dan konflik tak sadar adalah sentral dalam tingkah laku sekarang
o   Manusia di dorong oleh dorongan seksual agresif 
Dalam teori psikoanalisa nya freud menjelaskan tentang struktur kepribadian individu, struktur kepribadian tersusuan atas 3 sistem pokok, yakni:
o   Id
Id berisikan segala sesuatu yang secara psikologis ada sejak lahir dan merupakan reservoir  energi psikis. ID berhubungan erat dengan proses - proses jasmaniah darimana id mendapatkan energinya. id memiliki 2 proses yaitu proses primer dan tindakan refleksi. id terdiri dari dorongan - dorangan biologis seperti makan, sex dan agresifitas.

o   Ego
Ego timbul karena kebutuhan-kebutuhan organisme memerlukan transaksi-transaksi yang sesuai dengan dunia kenyataan objektif. Perbedaan pokok antara id dan ego adalah id hanya mengenal kenyataan subjektif-jiwa, sedangkan ego membedakan antara hal -hal yang terdapat dalam batin dan hal-hal yang terdapat dalam dunia luar. Ego disebut juga sebagai eksekutif kepribadian karena ego mengontrol pintu-pintu arah tindakan, memilih segi lingkungan kemana ia akan membri respon dan memutuskan insting mana yang akan dipuaskan.
o   Superego
Superego adalah perwujudan internal dari nilai-nilai dan cita-cita tradisional masyarakat. Superego juga mencerminkan yang ideal, bukan yang real, memperjuangkan kesempurnaan dan bukan kenikmatan. superego disebut juga sebagai wasit tingkah laku. 
Sumbangan terbesar Freud pada teori kepribadian adalah eksplorasinya ke dalam dunia tidak sadar dan keyakinannya bahwa manusia termotivasi oleh dorongan-dorongan utama yang belum atau tidak mereka sadari. Bagi Freud, kehidupan mental terbagi menjadi dua tingkat, alam tidak sadar dan alam sadar. Alam tidak sadar terbagi menjadi dua tingkat, alam tidak sadar dan alam bawah sadar.
o   Alam Tidak Sadar
Alam tidak sadar menjadi tempat bagi segala dorongan, desakan maupun insting yang tak kita sadari tetapi ternyata mendorong perkataan, perasaan dan tindakan kita. Sekalipun kita sadar akan perilaku kita yang nyata, sering kali kita tidak menyadari proses mental yang ada dibalik perilaku tersebut. Misalnya seorang pria bisa saja mengetahui bahwa ia tertarik pada seorang wanita tetapi tidak benar-benar memahami alasan dibalik ketertarikannya, yang bisa saja bersifat tidak rasional. Dorongan tidak sadar ini muncul di alam bawah sadar setelah menjalani transformasi tertentu. Contohnya, seseorang dapat mengekspresikan dorongan erotis atau keinginan untuk melukai orang lain dengan cara menggoga atau mengolok-olok orang lain.
o   Alam Bawah Sadar
Alam bawah sadar  ini memuat semua elemen yang tak disadari, tetapi bisa muncul kesadaran dengan cepat atau agak sukar (Freud, 1993/1964). Isi alam bawah sadar ini datang dari dua sumber, yang pertama adalah persepsi sadar (conscious perception). Apa yang dipersepsikan orang secara sadar dalam waktu singkat, akan segera masuk ke dalam alam bawah sadar selagi fokus perhatian beralih ke pemikiran lain. Sumber kedua dari gambaran-gambaran bawah sadar adalah alam tidak sadar. Sedangkan sejumlah gambaran lain dari alam tidak sadar bisa masuk ke alam sadar karena bersembunyi dengan baik dalam bentuk mimpi, salah ucap, ataupun dalam bentuk pertahanan diri yang kuat
o   Alam Sadar
Alam sadar, yang memainkan peran tak berarti dalam teori psikoanalisis, didefinisikan sebagai elemen-elemen mental yang setiap saat berada dalam kesadaran. Ini adalah satu-satunya tingkat kehidupan mental yang bisa langsung kita raih. Ada dua pintu yang dapat dilalui oleh pikiran agar bisa masuk ke alam sadar yaitu sistem kesadaran perseptual (perceptual conscious), yaitu terbuka pada dunia luar dan berfungsi sebagai perantara bagi persepsi kita tentang stimulus dari luar. Sumber kedua bagi elemen alam sadar ini datang dari dalam struktur mental dan mencakup gagasan-gagasan tidak mengancam yang datang dari alam bawah sadar maupun gambaran-gambaran yang membuat cemas, tetapi terselubung dengan rapi yang berasal dari alam tidak sadar.

B.   Aliran Humanistik
Aliran ini berkembang pada tahun 1950. Humanistik merasa tidak puas dengan behaviori maupun dengan aliran psikoanalisis. Aliran humanistik ini mengarahkan perhatiannya pada humanisasi yang menekankan keunikan manusia. Psikologi Humanistik manusia adalah makhluk kreatif,yang di kendalikan oleh nilai-nilai dan pada pilihan-pilihan sendiri bukan pada kekuatan-kekuatan ketidaksadaran.

Menurut aliran humanistik kepribadian yang sehat, individu dituntut untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya sendiri. Bukan saja mengandalakan pengalaman-pengalaman yang terbentuk pada masa lalu dan memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik dan benar sehingga menghasilkan respon individu yang bersifat pasif. Ciri dari kepribadian sehat adalah mengatualisasikan diri, bukan respon pasif buatan atau individu yang terimajinasikan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu. Aktualisasi diri adalah mampu mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap individu, karena setiap individu memiliki hati nurani dan kognisi untuk menimbang-nimbang segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya. Humanistik menegaskan adanya keseluruhan kapasitas martabat dan nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri. Bagi ahli-ahli psikologi humanistik, manusia jauh lebih banyak memiliki potensi. Manusia harus dapat mengatasi masa lampau, kodrat biologis, dan ciri-ciri lingkungan. Manusia juga harus berkembang dan tumbuh melampaui kekuatan-kekuatan negatif yang secara potensial menghambat.

C.   Pendapat Fromm
Menurut Erich Fromm, manusia adalah makhluk sosial. Berdasar pada pendapat tersebut, maka salah satu ciri pribadi yang sehat berarti adanya kemampuan untuk hidup dalam masyarakat sosial. Masyarakat sangat penting peranannya dalam membentuk kepribadian seseorang. Kepribadian seseorang merupakan hasil dari proses sosial di dalam masyarakat. Masyarakat yang menjadikan seseorang berkepribadian sehat adalah masyarakat yang hubungan sosialnya sangat manusiawi. Kepribadian sehat menurut Eric from adalah penyesuaian diri seseorang dalam masyarakat merupakan kompromi antara kebutuhan kebutuahn batin dan tuntutan dari luar dan seseorang menerapkan kerakter sosial untuk memenuhi harapan masyarakat kepribadian sehat juga adanya keinginan untuk mencintai dan di cinta

Menurut Fromm, ada lima watak social di dalam masyarakat :
1.     Penerimaan
2.                     Penimbunan
3.                     Penjualan/pemasaran
4.                     Penghisapan/pemerasan
5.                     Produktif.
Ciri-ciri kepribadian sehat menurut fromm :
-          Cinta yang Produktif
Cinta yang produktif menyangkut empat sifat yang menantang perhatian, tanggung jawab, respek dan pengetahuan. Mencintai orang-orang lain berarti memperhatikan (dalam pengertian memelihara mereka), sungguh-sungguh memperhatikan kesejahteraan mereka, dan membantu pertumbuhan dan perkembangan mereka.
-          Pikiran yang Produktif
Pikiran yang produktif meliputi kecerdasan, pertimbangan, dan objektivitas. Pemikir produktif didorong oleh perhatian yang kuat terhadap objek pikiran. Pemikir yang produktif dipengaruhi olehnya dan memperhatikannya. Fromm percaya bahwa semua penemuan dan wawasan yang hebat melibatkan pikiran objektif, dimana pemikir-pemikir didorong oleh ketelitian, dan perhatian untuk menilai secara objektif seluruh masalah.
-          Kebahagiaan
Kebahagiaan merupakan prestasi kita yang paling hebat.
-          Suara Hati
Fromm membedakan dua tipe suara hati otoriter dan suara hati humanistis.
KONSEP PENYESUAIAN DIRI
Penyesuaian dapat diartikan atau dideskripsikan sebagai adaptasi dapat mempertahankan eksistensinya atau bisa survive dan memperoleh kesejahteraan jasmaniah dan rohaniah, dan dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan sosial. Penyesuaian dapat juga diartikan sebagai konformitas, yang berarti menyesuaikan sesuatu dengan standar atau prinsip. Penyesuaian sebagai penguasaan, yaitu memiliki kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisasi respons-respons sedemikian rupa, sehingga bisa mengatasi segala macam konflik, kesulitan, dan frustrasi-frustrasi secara efisien. Individu memiliki kemampuan menghadapi realitas hidup dengan cara yang memenuhi syarat. Penyesuaian sebagai penguasaan dan kematangan emosional. Kematangan emosional maksudnya ialah secara positif memiliki responss emosional yang tepat pada setiap situasi. Disimpulkan bahwa penyesuaian adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan pada lingkungannya.

Penyesuaian diri adalah proses bagaimana individu mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan. Seperti kita ketahui  bahwa penyesuaian yang sempurna tidak pernah tercapai. Penyesuaian yang sempurna terjadi jika manusia/individu selalu dalam keadaan seimbang antaradirinya dengan lingkungannya dimana tidak ada lagi kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan di mana semua fungsi organisme/individu berjalan normal. Dalam proses penyesuaian diri dapat saja muncul konflik, tekanan, dan frustasi, dan individu didorong meneliti berbagai kemungkinan perilaku untuk membebaskan diri dari ketegangan.

Menurut Schneider (dalam Partosuwido, 1993) penyesuaian diri merupakan kemampuan untuk mengatasi tekanan kebutuhan, frustrasi dan kemampuan untuk mengembangkan mekanisme psikologis yang tepat. Menurut Callhoun dan Acocella (dalam Sobur, 2003), penyesuaian dapat didefenisikan sebagai interaksi individu yang kontinu dengan diri individu sendiri, dengan orang lain, dan dengan dunia individu. Menurut pandangan para ahli diatas, ketiga faktor tersebut secara konstan mempengaruhi individu dan hubungan tersebut bersifat timbal balik mengingat individu secara konstan juga mempengaruhi kedua faktor lain.

pada dasarnya, penyesuaian diri memiliki dua aspek, yaitu penyesuaian pribadi dan penyesuaian social.
1.      Penyesuaian Pribadi
Penyesuaian diri adalah kemampuan seseorang untuk menerima diri demi tercapainya hubungan yang harmonis antara dirinya dan lingkungan sekitarnya. Ia menyatakan sepenuhnya siapa dirinya sebenarnya, apa kelebihan dan kekuranganya dan mampu bertindak objektif sesuai dengan kondisi dan potensi dirinya. Keberhasilan penyesuaian diri pribadi ditandai oleh tidak adanya rasa benci tidak adanya keinginan untuk lari dari kenyataan, atau tidak percaya pada potensi pada dirinya. Sebaliknya, kegagalan penyesuaian pribadi ditandai oleh kegoncangan dan emosi, kecemasan, ketidak puasan, dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya sebagai akibat adanya jarak pemisah antara kemampuan individu dan tuntutan yang diharapkan oleh lingkungannya.
2.      Penyesuaian Sosial
Penyesuaian sosial diartikan sebagai keberhasilan seseorang untuk menyesuaikan diri terhadap orang lain pada umumnya dan terhadap kelompoknya pada khususnya. Dalam kehidupan di masyarakat terjadi proses saling mempengaruhi satu sama lain yang terus menerus yang silih berganti. Dari proses tersebut, timbul pola kebudayaan dan pola tingkah laku yang sesuai dengan aturan, hukum, adat istiadat, nilai, dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Proses ini dikenal dengan istilah proses  penyesuaian sosial. Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkungan hubungan social ditempat individu itu hidup dan berinteraksi dengan orang lain. Hubungan-hubungan sosial tersebut mencakup hubungan dengan anggota keluarga, masyarakat sekolah, teman sebaya, atau anggota masyarakat luas secara umum.

Daftar pustaka
-          Basuki,Heru. 2008. Psikologi Umum. Jakarta : Universitas Gunadarma.
-          www.psychologymania.com/2012/09/pengertian-penyesuaian-diri.html            

Jumat, 27 Desember 2013

ONLINE PERSONAL



FENOMENA INTERPERSONAL

Interpesonal adalah hubungan yang terjadi antar individu tidak hanya menyampaikan isi pesan yang ingin disampaikan tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Oleh karna itu hubungan interpersonal sangat erat kaitannya dengan komunikasi. dengan kata lain komunikasi disini merupakan dasar bagi pengembangan interpersonal. Disisi lain keterampilan komunikasi juga ditentukan oleh keterampilan tertentu yang merupakan bagian dari keterampilan hubungan interpersonal.
Secara sadar maupun tidak sebenarnya pengguna internet saling terhubung satu sama lain akan tetapi sadar maupun tidak sadarnya tergantung dari  situs apa yang pengguna internet tersebut. jika pengguna internet mengakses situs berita atau blog maka telah terjadi hubungan interpersonal yang tidak di sadari. Mengapa demikian? Karena artikel yang dimuat dalam blog atau situs berita memiliki tujuan yaitu memberikan pengetahuan atau wawasan terhadap sesuatu. Berarti pengakses situs tersebut telah menerima wawasan atau pengetahuan yang penulis berikan. Sebuah interaksi bukan? Tapi kenapa interaksi ini merupakan interaksi tidak langsung? Hal ini disebabkan karena interaksi ini hanya terjadi satu arah.
Lain halnya dengan situs chating atau gaming yang memiliki fitur chat yang memungkinkan sesama pengguna situs berinteraksi satu sama lain. Situs chating atau yang biasa digunakan adalah situs sosial media (socmed) seperti Facebook dan twitter merupakan situs yang paling banyak terjadi fenomenal interpersonalnya. Mengapa? Jelas karena situs ini memungkinkan dua atau lebih pengguna berinteraksi satu sama lain. Tetapi terdapat beberapa fitur yang lebih menunjang seperti adanya fitur grup yang memungkinkan adanya interaksi sekelompok pengguna internet yang memiliki kesamaan baik hobi, pandangan, maupun asal daerah.

Seperti banyak hal didunia yang memiliki kelebihan pasti juga memiliki kekurangan. Kekurangan dari melakukan hubungan dengan seseorang diantaranya adalah dapat terjadi penipuan, malas keluar rumah, atau bahkan sampai mengalami gangguan kepribadian. Apalagi jika orang yang berinteraksi dengan kita adalah orang yang tidak kita kenal.

Pernah dengar kasus penculikan yang di awali dari perkenalan dari facebook? Nah mungkin ini adalah salah satu contoh konkrit dari kekurangan hubungan interpersonal di jejaring sosial. Perlu di ingat bahwa tidak semua pengguna internet adalah orang baik dan jujur dan profil pada jejaring sosial dapat di samarkan. Tidak salah jika anda ingin memperluas lingkaran sosial anda, tetapi perlu di waspadai jika orang yang berkenalan ingin mengajak anda bertemu di suatu tempat, apalagi tempat yang asing buat anda.
Fenomena interpersonal juga dapat menimbulkan perilaku negative seperti delusional. Ada beberapa orang yang ingin sekali mendapatkan pasangan yang ideal atau bahkan kelewat ideal yang mungkin hanya dapat anda temukan di negri dongeng. Orang ini lalu terobsesi dengan pasangan imaginernya tersebut dan terobsesi untukmenemukannya melalui media sosial.

Kesimpulannya : Hubungan interpersonal juga memiliki kekurangan yaitu dapat terjadinya penipuan, cyber crime dan tindakan criminal. Apalagi di zaman ini dimana teknologi sudah berkembang pesat,dan teknologi mempunyai peran yang sangat penting untuk berkomunikasi. Disarankan untuk semua pengguna internet agar lebih berhati-hati dalam membangun suatu hubungan komunikasi di internet agar tidak merugikan diri senidiri nantinya.
http://en.wikipedia.org/wiki/Online_identity
http://rrafim.blogspot.com/2013/11/fenomena-interpersonal-dalam-internet.html