CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Kamis, 24 April 2014

KESEHATAN MENTAL 2 "TUGAS"

STRESS


a.     Arti penting stress
Menurut J.P Chaplin dalam kamus lengkap psikologi mendefinisikan stres sebagai suatu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun pikologis. Hal senada diungkapkan dalam Atkinson (1983), stress terjadi ketika orang dihadapkan dengan persitiwa yang mereka rasakan sebagai mengancam kesehatan fisik maupun psikologisnya. Keadaan sosial, lingkungan, dan fisikal yang menyebabkan stress dinamakan stressor. Sementara reaksi orang terhadap peristiwa tersebut dinamakanrespon stress, atau secara singkat disebut stress.

     Menurut Lazzarus 1999 “stress adalah rasa cemas atau terancam yang timbul ketika kita menginterpretasikan atau menilai suatu situasi sebagai melampaui kemampuan psikologis kita untuk bisa menanganinya secara memadai” (“Stress is the anxious or threatening feeling that comes when we interpret or appraise a situation as being more than our psychological resources can adequately handle”).


b.    Tipe-tipe stres psikologis

Frustasi
Frustasi muncul karena adanya kegagalan saat ingin mencapai suatu hal/tujuan. Misalnya seseorang mengalami kegagalan dalam pekerjaan yang mengakibatkan orang tersebut harus turun jabatan. Orang yang memiliki tujuan tersebut mendapat beberapa rintangan/hambatan yang tidak mampu ia lalui sehingga ia mengalami kegagalan atau frustasi. Frustasi ada yang bersifat intrinsik (cacat badan dan kegagalan usaha) dan ekstrinsik (kecelakaan, bencana alam, kematian orang yang dicintai, krisis ekonomi, pengangguran, perselingkuhan, dan lain-lain.
Konflik
Konflik ditimbulkan karena ketidakmampuan memilih dua atau lebih macam keinginan, kebutuhan, atau tujuan. Saat seseorang dihadapkan dalam situasi yang berat untuk dipilih, orang tersebut akan mengalami konflik dalam dirinya. Bentuk konflik digolongkan menjadi tiga bagian, approach-approach conflict, avoidant-avoidant conflict, approach-avoidant conflict
·                     approach-approach conflict adalah suatu konflik antara dua tujuan yang positif , tujuan-tujuan secraa bersama itu mempunyai daya tarik yang sama. Misalnya: suatu konflik psikologis muncul ketika seseorang lapar dan ngantuk pada saat yang sama.
·                     avoidant-avoidant conflict adalah konflik yang melibatkan dua tujuan negatif, dan ini suatu pengalaman yang biasa. Misalnya: seorang siswa harus belajar untuk dua hari berikutnya untuk satu ujian atau mendapatkan kegagalan.
·                     approach-avoidant conflict adalah konflik yang paling sulit dipecahkan. Dalam jenis konflik  ini, seseorang tertarik dan menolak objek tujuan yang sama. Karena valensi positif dari tujuan ini, orang mendekatinya; tetapi jika didekati, valensi negatifnya semakin kuat. Jika, pada satu titik mendekati tujuan, aspek-aspek yang menghambat menjadi lebih kuat daripada aspek-aspek positif, orang akan menghentikan usahanya sebelum mencapai tujuan. Karena tujuan tidak tercapai individu bias menjadi frustasi.

Tekanan
Tekanan timbul dari tuntutan hidup sehari-hari. Tekanan dapat berasal dari dalam diri individu, misalnya cita-cita atau norma yang terlalu tinggi sehingga menimbulkan tekanan dalam diri seseorang. Tekanan juga berasal dari luar diri individu, misalnya seorang teman yang memaksa kita agar memberi contekan disaat ujian berlangsung.
Kecemasan
Kecemasan adalah emosi tidak menyenangkan yang ditandai oleh perasaan seperti “khawatir”, “prihatin”, “tegang”, dan “takut” yang dialami oleh semua manusia tetapi dengan kadar dan tingkatan yang berbeda-beda. Misalnya seorang anak yang sering dimarahi ibunya, anak tersebut akan merasakan kecemasan yang cukup tinggi jika ia melakukan hal yang akan membuat ibunya marah padahal ibu si anak tersebut belum tentu marah padanya.


c.      Symptom-reducing respons terhadap stres
- Mekanisme Pertahanan Diri -
ª  Indentifikasi
Indentifikasi dapat didefinisikan sebagai metode yang digunakan orang untuk mengambil alih ciri-ciri orang lain dan menjadikannya bagian yang tak terpisahkan dari kepribadiannya sendiri. Misalnya seorang anak perempuan yang menganggap ibunya memiliki kepribadian yang menyenangkan, cara bicara yang halus, suka berdandan dan sebagainya, maka anak perempuan tersebut akan meniru dan berperilaku seperti ibunya.
ª  Kompensasi
Seorang individu tidak memperoleh kepuasan dibidang tertentu, tetapi mendapatkan kepuasaan dibidang lain. Misalnya Riza memiliki nilai yang buruk dalam pelajaran Fisika, namun prestasi olahraga yang ia miliki sangat memuaskan.
ª  Pembentukan Reaksi/ Reaction Formation
Perilaku seseorang yang gagal mencapai tujuan dan orang tersebut tidak mengakui tujuan pertama tersebut dengan cara melupakan serta melebih-lebihkan tujuan kedua yang biasanya berlawanan dengan tujuan pertama. Misalnya seorang ibu yang membenci anaknya karena kehadiran anak tadi tidak diinginkan sehingga ibu tadi ingin membunuh anaknya, namun sang ibu malah bertindak sebaliknya, ia sangat menyayangi anaknya.
ª  Sublimasi
Sublimasi adalah suatu mekanisme sejenis yang memegang peranan positif dalam menyelesaikan suatu konflik dengan pengembangan kegiatan yang konstruktif. Penggantian objek dalam bentuk-bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat dan derajatnya lebih tinggi. Misalnya korupsi adalah perbuatan yang tidak dibenarkan oleh norma-norma masyarakta atau agama. Agar tidak dianggap sebagai koruptor wawan mengamalkan sebagian hasil korupsinya untuk membantu anak yatim piatu.
ª  Proyeksi
Proyeksi adalah proses pertahanan yang secara langsung tidak disadari dan dimana individu yang bersangkutan itu tidak mau menyadari/mengakui. Misalnya Tito membenci Toni, namun karena toni adalah kaka kandungnya, maka Tito mengatakan bahwa Toni yang membenci dia.
ª  Introyeksi
Introyeksi adalah memasukan dalam diri pribadi dirinya sifat-sifat pribadi orang lain. Misalnya seorang wanita mencintai seorang pria lalu ia memasukkan pribadi pria tersebut ke dalam pribadinya.
ª  Reaksi Konversi
Secara singkat mengalihkan koflik ke alat tubuh atau mengembangkan gejala fisik. Misalnya belum belajar saat menjelang bel masuk ujan, seorang anak wajahnya menjadi pucat berkeringat.
ª  Represi
Represi adalah konflik pikiran, impuls-impuls yang tidak dapat diterima dengan paksaan ditekan ke dalam alam tidak sadar dan dengan sengaja melupakan. Misalnya seorang mahasiswa bertemu dengan wanita cantik, putih dan seksi. Namun setelah disadari ternyata wanita cantik itu adalah dosennya yang telah bersuami. Sehingga gairahnya tadi ditekan kea lam tidak sadar.
ª  Supresi
Supresi yaitu menekan konflik impuls yang tidak dapat diterima secara sadar. Individu tidak mau memikirkan hal-hal yang kurang menyenangkan dirinya. Misalnya dengan berkata “Sebaiknya kita tidak membicarakan hal itu lagi.” 
ª  Regresi
Regresi adalah mekanisme perilaku seorang yang apabila menghadapi konflik frustasi, ia menarik diri dari pergaulan. Misalnya artis yang sedang digosipkan selingkuh karena malu maka ia menarik diri dari perkumpulannya.
ª  Fantasi
Fantasi adalah kemampuan mental untuk membentuk tanggapan-tanggapan atau bayangan-bayanagan baru. (Walgito, 2004:139). Misalnya seorang wanita yang tidak memiliki uang untuk pergi ke paris ia melamunkan berbagai fantasi dirinya seolah-olah sedang berada di paris.
ª  Negativisme
Negativisme adalah perilaku seseorang yang selalu bertentangan dengan perilaku tidak terpuji. Misalnya seorang teman yang mengajak Rika mencuri, namun Rika menolaknya.
ª  Sikap Mengritik Orang Lain
Bentuk pertahanan diri untuk menyerang orang lain dengan kritikan-kritikan. perilaku ini termasuk perilaku agresif yang aktif. Misalnya seorang karyawan yang berusaha menjatuhkan karyawan lain dengan adu argument saat rapat berlangsung.



d.    Pendekatan problem solving terhadap stress
Problem Solving
Kita mengalahkan stress dengan cara menyelesaikan problem stressor (hal yang membuat stress itu). Misalnya, kita stress karena menderita suatu penyakit, maka kita menyelesaikan masalah dengan berobat sehingga penyakit kita bisa sembuh. Atau bisa juga dengan mengusahakan agar kita bisa menyesuaikan diri dengan situasi yang terjadi (bila situasinya sendiri tidak bisa dirubah).
_Meningkatkan Toleransi Stress_
Mengarahkan diri pada kegiatan yang posotif, bisa secara psikis maupun fisik, misalnya secara psikis: menyadari bahwa didalam kehidupan semua orang pernah mengalami stress, walaupun dalam bentuk dan tingkat yang berbeda-beda. Secara fisik: berolahraga dipagi hari, membaca komik lucu atau menonton hiburan di Tv, melakukan wisata alam, mengkonsumsi makanan yang bisa meralaksasi seperti coklat.

Menghilangkan stress mekanisme pertahanan dan penanganan yang berfokus pada masalah. Menurut Lazurus dan Folkman penanganan stress atau coping terdiri dari dua bentuk, yaitu :
·                     problem focused coping (Coping yang berfokus pada masalah) adalah istilah Lazurus untuk strategi kognitif untuk penanganan dtress atau coping yang digunakan oleh individu yang mengahadapi masalahnya dan berusaha menyelesaikannya.
·                     problem focused coping (Coping yang berfokus pada emosi) adalah isitlah Lazurus untuk strategi penanganan stress diaman individu memberikan respon terhadad situasi stress dengan cara emosional, terutama dengan menggunakan penialaian defensif.
















Hubungan Interpersonal



a. Model-model hubungan interpersonal
Ada 4 model hubungan interpersonal yaitu meliputi :
  1. Model pertukaran sosial
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berinteraksi karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya.Thibault dan Kelley, dua orang pemuka dari teori ini menyimpulkan model pertukaran sosial sebagai berikut: “Asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanyaselama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya”.
Ganjaran yang dimaksud adalah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan. Ganjaran dapat berupa uang, penerimaan sosial, atau dukungan terhadap nilai yang dipegangnya. Sedangkan yang dimaksud dengan biaya adalah akibat yang negatif yang terjadi dalam suatu hubungan. Biaya itu dapat berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan, dan keruntuhan harga diri dan kondisi-kondisi lain yang dapat menimbulkan efek-efek tidak menyenangkan.
  1. Model peranan
Model peranan menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara.Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang tuntutan peranan adalah desakan sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu.
  1. Model permainan
Model menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :
  1. Kepribadian orang tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua).
  2. Kepribadian orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional)
  3. Kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).
Pada interaksi individu menggunakan salah satu kepribadian tersebut sedang yang lain membalasnya dengan menampilkan salah satu dari kepribadian tersebut. Sebagai contoh seorang suami yang sakit dan ingin minta perhatian pada istri (kepribadian anak), kemudian istri menyadari rasa sakit suami dan merawatnya (kepribadian orang tua).
  1. Model Interaksional
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki sifat-sifat strukural, integratif dan medan. Semua sistem terdiri dari subsistem-subsistem yang saling tergantung dan bertindak bersama sebagai suatu kesatuan. Selanjutnya, semua sistem mempunyai kecenderungan untuk memelihara dan mempertahankan kesatuan. Bila ekuilibrium dari sistem terganggu, segera akan diambil tindakannya. Setiap hubungan interpersonal harus dilihat dari tujuan bersama, metode komunikasi, ekspektasi dan pelaksanaan peranan.Secara singkat model ini menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.


b. Pembentukan kesan dan ketertarikan interpersonal
Pembentukan kesan
Menurut Sears dkk. (1992) individu cenderung membentuk kesan panjang lebar atau orang lain berdasarkan informasi yang terbatas. Hanya dengan melihat dari potret atau secara langsung selama beberapa menit saja, seseorang sudah cenderung menilai sebagian besar karekter orang yang diamatinya tersebut. Beberapa orang tidak percaya dengan pendapat ini, mesiki demikian individu umumnya menilai orang lain dari segi intelegensi, usia, latar belakang, ras, agama, pendidikan, kejujuran, dan sebagainya.
  • Evaluasi : Kesan Pertama.
Menurut Sears dkk. (1992) aspek pertama yang paling penting dan kuat adalah evaluasi: apakah kita akan menyukai seseorang atau tidak? Kesan awal ini dapat dilihat dari beberapa indikasi seperti : dia mungkin ingin bersahabat, senang ngobrol, periang, atau ramah.
Secara formal dimensi evaluatif merupakan dimensi terpenting diantara sejumlah dimensi dasar yang mengorganisasiikan kesan gabungan tentang orang lain. Terdapat banyak penelitian yang pada akhirnya menyimpulkan bahwa evaluasi merupakan dimensi dasar terpenting dari persepsi seseorang. Rosenberg, Nelson, dan Vivekanathan (dalam Sears dkk,1992) menemukan bahwa orang mengevaluasi orang lain sesuai dengan kualitas intelektual atau yang berhubungan dengan tugas terpisah mereka, dan kualitas sosial atau hubungan interpersonal mereka, paling tidak untuk beberapa waktu. Meski demikian perbedaan ini tidak merubah ciri dasarnya yaitu: manusia pertama-tama akan berpikir sesuai dengan rasa suka atau tidak suka jika melihat orang lain.
  • Kesan Menyeluruh.
Untuk menjelaskan bagaimana orang mengevaluasi terhadap orang lain, dapat dilakukan dari “kesan yang diterima secara keseluruhan”. Sears dkk. (1992) membagi kesan menyeluruh tersebut menjadi dua, yaitu:
  1. Model penyamarataan –> Model penyamarataan menyatakan bahwa individu dapat menyusun potongan-potongan informasi yang terpisah-pisah menjadi suatu kesan menyeluruh yang sederhana
  2. Model menambahkan –> Model menambahkan menyatakan bahwa individu mempersatukan potongan-potongan informasi yang terpisah dengan jalan menambahkan nilai ukutan dan bukannya dengan membuat rata-rata.
  • Konsistensi
Individu cenderung membentuk karekteristik yang konsisten secara evaluatif terhadap individu lainnya, meski hanya memiliki sedikit informasi. Kita cenderung memandang orang lain secara konsisten dari kedalamannya. Karena evaluasi merupakan dimensi paling penting di dalam persepsi manusia, sehingga kita cenderung akan menilai “baik” dan “buruk”, dan bukan keduanya (Sears dkk, 1992).
Berdasarkan evaluasi dengan pendekatan ini, maka kita akan melihat ciri lain yang konsisten dengannya. Jika seseorang bersifat menyenangkan, dia harus menarik, cerdas, murah hati, dan seterusnya. Sementara bila buruk, maka dia harus licik, berwajah buruk, dan aneh. Kecenderungan terhada konsistensi ini disebut “Efek Halo”. Di dalam efek halo, orang yang telah dilabel selalu baik selalu dikelilingi oleh suasana positif dan kebalikannya pada orang yang dilabel buruk selalu dipandang memiliki kualitas yang buruk (Efek Halo Negatif) (Sears dkk., 1992)
  • Prasangka Positif
Prasangka positif menurut Sears dkk. (1992) adalah kecenderungan menilai otang lain secara positif sehingga mengalahkan evaluasi negatif. Misalnya pada studi dimana mahasiswa sebagian besar memberikan nilai positif terhadap profesornya dengan nilai di atas rata-rata, meski para mahasiswa tersebut telah mengalami berbagai pengalaman baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan dengan profesornya selama kuliahnya. Ada hipotesis rasional muncul untuk berprasangka secara positif, yang oleh Matlin dan Stang (dalam Sears dkk., 1992) disebut sebagai prinsip Pollyana. Berdasarkan pendapat ini, maka orang akan merasa lebih senang apabila dikelilingi oleh hal-hal yang baik, pengalaman yang menyenangkan, masyarakat yang ramah, cuaca yang cerah, dan sebagaimya. Bahkan ketika mereka sakit atau rumahnya runtuh sekalipun, mereka akan tetap menilai situasi selalu baik.
Ketertarikan Interpersonal
Setelah perjumpaan awal, perhatian kita sering kali terfokus pada bagaimana memelihara dan mengarahkan hubungan yang tercipta berdasarkan daya tarik awal untuk selanjutnya akan dapat menimbulkan keintiman dan bahkan cinta. Para ahli psikologi ternyata telah banyak mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi daya tarik seseorang terhadap orang lain. Hal ini disebabkan karena manusia akan berusaha untuk memprioritaskan hubungan antarpribadi sepanjang hidupnya. Kecenderungan untuk berafiliasi (keinginan untuk berada bersama dengan orang lain) memang cukup kuat bagi kebanyakan orang. Hal ini sebenarnya sudah terjadi semenjak masa bayi, dimana bayi mulai membangun rasa kasih sayang yang kuat pada satu orang dewasa atau lebih. Beberapa prinsip yang berusaha menjelaskan mengapa akhirnya kita memutuskan untuk berteman atau tidak berteman dengan orang lain adalah:
  1. Penguatan: kita menyukai orang lain dengan cara memberi ganjaran sebagai penguatan dari tindakan atau sikap kita. Salah satu tipe ganjaran yang penting adalah persetujuan sosial, dan banyak penelitian memperlihatkan bahwa kita cenderung menyukai orang lain yang cenderung menilai kita secara positif (Sears, 1992).
  2. Pertukaran Sosial: rasa suka kita pada orang lain didasarkan pada penilaian kita terhadap kerugian dan keuntungan yang diberikan seseorang kepada kita. Kita menyukai seseorang apabila kita mempersepsi bahwa interaksi kita dengan orang itu sifatnya menguntungkan, yaitu apabila ganjaran yang akan kita terima lebih besar dari pada kerugiannya. Teori ini juga menekankan bahwa kita membuat penilaian komparatif, menilai keuntungan yang kita peroleh dari seseorang dibandingkan dengan keuntungan yang kita peroleh dari orang lain (Sears dkk., 1992)
  3. Asosiasi: kita menjadi suka kepada orang yang diasosiasikan (dihubungkan) dengan pengalaman yang baik/bagus dan tidak suka kepada orang yang diasosiasikan dengan pengalaman buruk/jelek (Clore & Byrne dalam Sears dkk., 1992).
Selain itu ada juga faktor-faktor yang mempengaruhi ketertarikan interpersonal yaitu :
  • Karakter Pribadi
Para ahli telah berusaha mengidentifikasikan beberapa karakteristik umum yang mempengaruhi rasa suka seseorang kepada orang lain, yaitu ketulusan, kehangatan personal (terlihat hangat dan ramah ketika membicarakan suatu hal, memuji ataupun menyetujuinya), kompetensi, daya tarik fisik.
  • Kesamaan
Kita cenderung menyukai orang yang sama dengan kita dalam sukap, nilai, minat, hobby, latar belakang dan kepribadian.
  • Keakraban
Keakraban dapat ditingkatkan dengan kedekatan. Menurut penelitian Zajonc dkk, menunjukkan bahwa makin sering subjek melihat suatu wajah, semakin besar rasa suka mereka terhadap wajah tersebut dan semakin besar kemungkinan mereka untuk menyukai orang lain.
  • Kedekatan
Menurut Atkinson dkk. (1993) salah satu prediktor terbaik mengenai apakah dua orang dapat berteman atau tidak adalah seberapa jauh jarak tempat tinggal mereka. Menurut Schiffenbauer dan Achiavo (dalam Atkinson dkk., 1992) kedekatan hanya meningkatkan intensitas reaksi awal. Akan tetapi karena seringkali perjumpaan pertama menyangkut hal-hal yang paling netral sampai yang menyenangkan, hasil kedekatan yang paling sering dapat dipertahankan adalah persahabatan. Terdapat tiga faktor yang menghubungkan antara kedekatan dan daya tarik interpersonal yaitu kedekatan biasanya meningkatkan keakraban, kedekatan sering berkaitan dengan kesamaan, orang yang dekat secara fisik lebih mudah didapat daripada orang yang jauh (Sears dkk., 1992)


c. Intimasi dan hubungan pribadi
  • Shadily dan Echols (1990) mengartikan intimasi sebagai kelekatan yang kuat yang didasarkan oleh saling percaya dan kekeluargaan.
  • Sullivan (Prager, 1995) mendefinisikan intimasi sebagai bentuk tingkah laku  penyesuaian seseorang untuk mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap  orang lain.
  • Steinberg (1993) berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah  ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu  sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang  terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas  yang sama.
  • Levinger & Snoek (Brernstein dkk, 1988) merupakan suatu bentuk hubungan  yang berkembang dari suatu hubungan yang bersifat timbal balik antara dua  individu. Keduanya saling berbagi pengalaman dan informasi, bukan saja pada hal-hal yang berkaitan dengan fakta-fakta umum yang terjadi di sekeliling mereka, tetapi lebih bersifat pribadi seperti berbagi pengalaman hidup, keyakinan-keyakinan, pilihan-pilihan, tujuan dan filosofi dalam hidup. Pada tahap ini akan terbentuk perasaan atau keinginan untuk menyayangi, memperdulikan, dan merasa bertangung jawab terhadap hal-hal tertentu yang terjadi pada orang yang dekat dengannya.
  • Atwater (1983) mengemukakan bahwa intimasi mengarah pada suatu  hubungan yang bersifat informal, hubungan kehangatan antara dua orang yang  diakibatkan oleh persatuan yang lama. . Intimasi mengarah pada keterbukaan pribadi dengan orang lain, saling berbagi pikiran dan perasaan mereka yang terdalam. Intimasi semacam ini membutuhkan komunikasi yang penuh makna untuk mengetahui dengan pasti apa yang dibagi bersama dan memperkuat ikatan yang telah terjalin. Hal tersebut dapat terwujud melalui saling berbagi dan membuka diri, saling menerima dan menghormati, serta kemampuan untuk merespon kebutuhan orang lain (Harvey dan Omarzu dalam Papalia dkk, 2001).
Jadi intimasi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk menjalin hubungan yang dekat atau akrab dengan orang lain dengan menunjukkan perasaan saling percaya, saling berbagi (keterbukaan diri), adanya hubungan timbal balik dan terbentuknya komitmen dalam suatu hubungan.
Keintiman memiliki arti kelekatan personal kepada individu lain, dimana pasangan tersebut saling berbagi pemikiran dan perasaan terdalamnya. Sedangkan hubungan personal (intim) merupakan hubungan yang memiliki kedekatan emosional antara dua orang atau lebih, seperti dengan teman, kekasih, sahabat, yang mungkin atau tidak melibatkan keintiman baik secara fisik atau seksual. Berdasarkan pendekatan dalam Teori Hubungan Interpersonal, keintiman dapat dijelaskan sebagai berikut:
  1. Fair-exchange modelKeintiman merupakan hubungan satu sama lain tidak menghitung untung-rugi, antar pasangan saling memberi dan menerima secara spontan di mana satu sama lain merasa terpuaskan.
  2. Transactional analysis model. Keintiman melibatkan kasih sayang, game-free transactionantar pasangan, dengan sedikit manipulasi di antara keduanya.
  3. Role model.Keintiman diharapkan sebagai hubungan personal yang kaya, memiliki komunikasi yang terbuka antara pasangan, dan keterlibatan mendalam secara emosional melebihi peran-peran lain yang diharapkan.


Sumber:
Basuki, A.M. Heru. (2008). Psikologi Umum. Jakarta : Universitas Gunadarma.
Supratiknya, A. (1978). Psikologi Kepribadian. Yogyakarta : Kanisius.
Riyanti, Dwi B.P., Prabowo, Hendro. (1998). Psikologi Umum 2. Jakarta : Universitas Gunadarma.



0 komentar:

Posting Komentar